Rabu, 30 Maret 2016

Penurunan Harga BBM Tak Pengaruhi Harga Barang

Artikel berita diambil dari situs detik.com hari Selasa, 29 Maret 2016
Judul artikel adalah Penurunan Harga BBM Tak Pengaruhi Harga Barang.
Analisis artikel:
·         Paragraf dalam artikel tersebut adalah paragraf deduktif
·         Wujud evidensi dalam artikel tersebut dalam bentuk informasi. Tidak ada wujud data dalam berita tersebut. Informasi ditujukan di setiap kalimat yang terdapat dalam berita tersebut.
Kesimpulan dari artikel ini adalah inferensi. Cara menguji data dalam artikel tersebut melalui autoritas. Dilakukan wawancara langsung ke bagian lembaga atau badan yang berwenang menangani kasus tersebut.

Contoh Paragraf Generalisasi:
Tio merupakan salah satu mahasiswa di Universitas Gunadarma. Dia mengambil jurusan Teknik Mesin. Selama perkuliahan dia selalu mendapat predikat baik di mata dosen. Alasan nya adalah karena dia suka dengan jurusan yang dia ambil. Maka dia akan selalu bersikap sopan dan baik di setiap mata kuliah.
Contoh Paragraf Analogi:
Perempuan itu sangat cantic seperti bulan yang sedang menerangi bumi. Wajahnya yang lembut memiliki khas tersendiri seperti bulan di langit yang menyinari bumi dengan lembut. Bagai pinang di belah dua, perempuan itu menampakkan kecantikan alami seperti bulan menyinari bumi secara alami pula.
Contoh Paragraf Akibat-Akibat:
Indonesia menjadi salah satu negara berkembang di dunia. Hal ini tidaklah baik bagi negara. Setiap negara menginginkan predikat negara maju dengan hasil bumi nya sendiri. Masyarakat yang kurang dalam pendidikan sangat mempengaruhi. Indonesia butuh orang-orang yang berpikiran jernih jauh ke depan demi kemajuan bangsa.

Jumat, 18 Maret 2016

Darurat Pedofilia Belum Berakhir



Artikel berita diambil dari koran Republika hari Jumat, 16 Oktober 2015.
Judul artikel adalah Darurat Pedofilia Belum Berakhir.
Analisis artikel:
·         Paragraf dalam artikel tersebut adalah paragraf deduktif
·         Wujud evidensi dalam artikel tersebut dalam bentuk data dan informasi. Data terdapat di paragraf 11 ditunjukkan pada kalimat “Dari Januari hingga September 2015, kasusnya sudah mencapai angka 53”. Secara tidak langsung dari kalimat tersebut juga terdapat informasi jangka waktu yang diambil yaitu bulan Januari sampai September 2015.
·         Selain data itu juga terdapat data lain yang ditunjukkan dari paragraf 10 dalam kalimat “Di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dalam semester pertama 2015 jumlahnya mencapai 49 kasus”. Dalam kutipan kalimat diatas juga terdapat informasi daerah yaitu Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
·         Banyak informasi juga yang terdapat dalam artikel tersebut antara lain terdapat dalam paragraf 13 yang ditunjukkan dari kalimat opini Sekretaris Jenderal Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlinda yang menyatakan bahwa saat ini kekerasan seksual, khususnya pedofilia, sudah sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya dari pihak keluarga dan sekolah, saat ini orang asing yang bermoduskan menjadi tenaga pengajar dan relawan di Indonesia banyak yang merupakan pedofil.
·         Kesimpulan dari artikel ini adalah inferensi. Cara menguji data dalam artikel tersebut melalui autoritas. Dilakukan wawancara langsung ke bagian lembaga atau badan yang berwenang menangani kasus tersebut.

Senin, 04 Januari 2016

REVIEW JURNAL PERILAKU KONSUMEN

TUGAS SOFTSKILL
REVIEW JURNAL PERILAKU KONSUMEN

1. Judul:  ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PEMBELIAN MELALUI SOCIAL NETWORKING WEBSITES
2.      Penulis: Abdurrahman Adi Sukma
3.      Tahun: 2012
4.      Latar Belakang:
Internet merupakan salah satu teknologi informasi yang terus berkembang dan banyak dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan manusia hingga saat ini. Kontribusi perkem-bangan teknologi internet dalam konteks ekonomi global yang berkembang saat ini diantaranya adalah penerapan internet sebagai media komunikasi pemasaran dan transaksi perdagangan.
Mudahnya memasarkan produk melalui internet, serta banyaknya manfaat yang diberikan internet seperti, jangkauan pasar yang lebih luas, biaya yang rendah, beroperasinya internet selama 24 jam, dan memungkinkannya komunikasi yang lebih dekat dan intens dengan konsumen, sangat membantu pelaku bisnis untuk dapat meningkatkan penjualan mereka.
Ahli pemasaran Hermawan Kartajaya bahkan berpendapat bahwa pengusaha yang tidak mempromosikan produknya malalui internet akan merugi dan tergeser. Karena menurutnya, melakukan komunikasi pemasaran melalui internet sangatlah efektif (Kusumadewi dan Bobby, 2012).
Di dalam dunia pemasaran internet seorang e-marketer tidak dapat mengabaikan peran social networking websites sebagai media komunikasi pemasaran mereka. Dalam kegiatan pemasaran melalui social networking websites memungkinkan pemasar untuk menerapkan strategi pemasaran interaktif. Dalam kegiatan pemasaran interaktif, konsumen tidak lagi bertindak sebagai peserta pasif yang hanya menerima iklan sebelum melakukan pembelian, melainkan juga ikut proaktif dan interaktif dalam kegiatan pemasaran.
Keunggulan lain dari social networking websites adalah Viral, viral berarti memiliki sifat seperti virus, yaitu menyebar dengan cepat, dimana Informasi menarik yang muncul dari brand atau produk dapat menyebar dengan sangat cepat. Ini terjadi karena umumnya para pengguna social networking websites memiliki keinginan yang kuat untuk berbagi. Lalu Community, dalam hal ini social networking websites dapat menjadi media yang efektif untuk menciptakan komunitas online tanpa memerlukan biaya yang besar.
Besarnya potensi dan banyaknya keunggulan social networking websites sebagai media komunikasi pemasaran, dapat menjadi sarana yang sangat ampuh bagi para profesional dan pelaku bisnis untuk memperkuat citra brand dan kegiatan marketing mereka. Dalam mencapai hal tersebut, seorang e-marketer terlebih dahulu perlu mengetahui apa yang dibutuhkan, diinginkan, dan diharapkan oleh customer, serta mengetahui pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan customer dalam melakukan pembelian. Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan cara mempelajari faktor-faktor yang dapat mempe-ngaruhi keputusan pembelian oleh customer.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk menganalisis faktor-faktor yang mempe-ngaruhi keputusan pembelian melalui social networking websites. Faktor yang akan di uji pada penelitian ini adalah faktor Trust, Security, Quality of Service, dan Perceived Risk dalam mempengaruhi keputusan pembelian melalui social networking websites. Hasil dari analisis inilah yang kemudian dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan yang efektif, dan menentukan kebijakan yang diperlukan bagi pihak-pihak yang melakukan pemasaran melalui social networking websites.

5.      Metodologi:
Penelitian ini dibangun guna mengetahui pengaruh faktor trust, security, quality of service, dan perceived risk dalam mempenga-ruhi keputusan pembelian melalui social networking websites. Adapun yang menjadi obyek pada penelitian ini adalah para pengguna facebook dan twitter yang pernah menggunakan social networking websites untuk melakukan transaksi pembelian. Penelitian ini mengguna-kan data primer sebagai sumber analisis data. dimana data dikumpulkan dan diperoleh dengan cara memberikan kuesioner secara langsung kepada 100 orang responden terpilih guna memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Kriteria-kriteria responden yang ditentukan pada penelitian ini adalah; responden adalah pengguna social networking websites facebook atau twitter, responden setidaknya telah berpenghasilan, responden telah melakukan transaksi pembelian melalui social networking websites facebook atau twitter minimal sebanyak 3 kali, dan responden memiliki kuasa penuh dan tidak bergantung kepada pihak lain dalam menentukan terjadi atau tidaknya transaksi pembelian melalui social networking websites.
Variabel-variabel yang diteliti dalam peneli-tian ini terdiri dari variabel independent dan variabel dependent. Dimana variabel indepen-dent terdiri dari variabel Trust (X1), Security (X2), Quality of Service (X3), dan Perceived Risk (X4), sedangkan variabel dependentnya adalah Purchase Decision (Y).
Seperti yang telah disebutkan bahwa penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data, untuk itu perlu dilaku-kan uji validitas dan reabilitas sebelum kuesioner disebarkan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah kuesioner tersebut mimiliki kemampuan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Kemudian barulah dilaku-kan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji heteroskedastisitas, dan uji multikolineritas.
Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda, dan untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel independent dan dependent dilakukan melalui uji koefisien determinasi. Lalu untuk menguji tingkat signifikasi dilakukan dengan melalui uji t dan uji F. Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independent secara individual (parsial) terhadap variabel dependent, sedangkan uji F digunakan untuk menguji secara simultan antara variabel independent terhadap variabel dependent. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan bantuan progam SPSS versi 19.0 untuk mengestimasi hubungan saling ketergantungan baik secara parsial maupun secara simultan.

6.      Isi dan Hasil:
Variabel Purchase Decision yang meliputi ketepatan dalam memutuskan pembelian, kepuasan berbelanja, dan keinginan untuk kembali melakukan transaksi menunjukan nilai yang positif dan signifikan. Tanggapan responden pada variabel ini menunjukan bahwa mereka merasa puas ketika melakukan pem-belian melalui social networking websites.
Hal ini terlihat dari tanggapan mereka yang menyatakan bahwa webstore mampu memenuhi harapan serta keinginan mereka. Selain itu mereka juga merasa bahwa pembelian melalui social networking websites merupakan sebuah keputusan yang tepat dan merupakan salah satu alternatif terbaik dalam berbelanja. Hal inilah yang pada akhirnya membuat mereka untuk kembali melakukan pembelian melalui social networking websites dikemudian hari tanpa harus merasa takut ataupun khawatir.
Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kim et al. (2003), Raman dan Viswanathan (2011), Archana Raje dan Vandana T.K (2012), serta Suresh A. M. dan Shashikala R. (2011), yang masing-masing mengatakan bahwa faktor trust, security, quality of service, dan perceived risk berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian melalui internet.

7.      Kesimpulan:
Berdasarkan hasil penelitian dan pem-bahasan yang telah diuraikan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara parsial faktor trust, quality of service, dan perceived risk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian melalui social networking websites. Ini berarti bahwa trust, quality of service, dan perceived risk akan sangat menentukan tingkat pembelian melalui social networking websites, sedangkan faktor security walaupun pengaruh yang ditimbulkan tidaklah signifikan namun hasil menunjukan bahwa faktor ini tetap memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam menentukan tingkat pembelian melalui social networking websites.
Kemudian secara simultan diketahui bahwa faktor trust, security, quality of service, dan perceived risk berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian melalui social networking websites. Hal ini menunjukan bahwa faktor trust, security, quality of service, dan perceived risk memiliki pengaruh yang kuat dalam menentukan keputusan pembelian melalui social networking websites.

Diketahui pula bahwa faktor quality of service adalah faktor yang paling dominan dalam menentukan keputusan pembelian melalui social networking websites. Hal ini berarti bahwa, ketika webstore meningkatkan mutu dan pelayanannya, maka hal tersebut akan mampu mempengaruhi tingkat penjualan mereka dengan signifikan.

Senin, 16 November 2015

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Motivasi, persepsi, pembelajaran, dan sikap konsumen dalam membeli suatu produk.

Dalam hal motivasi pembelian produk, konsumen memiliki kebutuhan akan pengakuan, penghargaan, atau rasa memiliki. Selain itu, persepsi konsumen terhadap kualitas suatu produk juga mungkin akan memberikan kepuasan kepada pelanggan yang kemudian menciptakan minat bagi pelanggan untuk melakukan pembelian ulang (loyalitas) produk tersebut. Di era globalisasi dan pasar bebas, berbagai jenis barang dan jasa dengan ratusan merek membanjiri pasar Indonesia.

Persaingan antar merek setiap produk akan semakin tajam dalam merebut konsumen.Untuk dapat mengenal, menciptakan dan mempertahankan pelanggan, maka studi tentang perilaku konsumen sebagai perwujudan dari aktivitas jiwa manusia sangatlah penting.

Ada banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dan proses pengambilan keputusannya dalam pembelian suatu barang. Seperti yang dikemukakan oleh Suharto (2001:3), bahwa proses pengambilan keputusan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu: faktor sosiokultur (kebudayaan, kelas sosial, kelompok referensi) dan faktor psikologis (sikap, persepsi, motivasi dan gaya hidup).

Proses pengambilan keputusan pembelian memiliki lima tahap sebagaimana yang dikemukakan oleh Kotler (2000:204) yaitu: tahap pengenalan masalah atau kebutuhan, tahap pencarian informasi, tahap evaluasi altematif, tahap keputusan pembelian, dan tahap perilaku pasca pembelian.

Untuk mengetahui dan mengenali konsumen, biasanya dilakukan lewat survey konsumen untuk memetakan dan mengetahui perilaku konsumen.

Motivasi konsumen erat kaitannya dengan yang namanya “keinginan”. Tidak perlu bingung dan berdebat panjang memahami mana yang berupa “keinginan” dan mana yang berupa “kebutuhan” konsumen. Sebab keduanya meski berbeda, namun yang jelas, keduanya mendorong terjadinya pembelian oleh konsumen.

Ketika produk sudah ditargetkan pada segmen tertentu, diposisikan, dan menetapkan pasar sasaran tertentu, maka keberhasilan pemasarannya ditentukan oleh program-program pemasaran selanjutnya. Dan tentunya, program pemasaran ini harus mengakomodasi faktor-faktor yang terkait. Tentunya banyak faktor yang terkait dalam hal ini. Salah satu faktor utama adalahkonsumen. Keputusan pembelian, dalam hal ini pertukaran barang atau jasa, merupakan tahapan yang sangat penting. Tahap ini merupakan muara dari pertimbangan-pertimbangan yang mereka lakukan sebelumnya, sekaligus sebagai dasar umpan balik untuk mereka di masa yang akan datang. Keputusan pembelian konsumen ini dapat berupa pilihan mengenai produk atau jasa apa yang mereka beli, merek apa yang akan mereka beli, kapan dan dimana mereka akan membeli, berapa jumlahnya, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan bagaimana mereka melakukan pembelian itu. Didalam menentukan keputusan pembelian inilah, faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mengambil keputusan pembeliannya, memberikan pertimbangan-pertimbangan yang akan menentukan keputusan akhirnya. Tentunya ada banyak faktor yang mempengaruhi seorang konsumen dalam mengambil keputusan pembelian. Salah satu dari sekian faktor itu yang sangat menarik dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen adalah motivasi,persepsi, pembelajaran, dan sikap.
Inilah yang membuat faktor ini menarik untuk diperhatikan. Diantara banyak pengaruh dan komponen yang berinteraksi dalam membentuk suatu perilaku konsumen, keempat faktor ini tentu memberikan kontribusi yang besar secara internal dan individual dalam menentukan keputusan pembelian konsumen pada akhirnya. Sebagai faktor yang tidak dikondisikan oleh pemasar, faktor ini harus dimanfaatkan dengan tepat dengan rangsangan-rangsangan pemasaran yang dapat membangkitkan faktor yang bersifat kejiwaan ini.
Di dalam proses untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya tersebut, tentunya konsumen yang bersangkutan akan mencari informasi yang berkaitan untuk kemudian mengevaluasinya. Kemudian dari informasi-informasi dan alternatif yang telah diperoleh tadi sebelum diputuskan untuk melakukan pembelian atau tidak, sebelumnya, terlebih dahulu hal ini diproses dalam pertimbangan di dalam diri konsumen tersebut. Dalam proses inilah faktor-faktor pengaruh psikologis atau internal tadi sangat memegang peranan yang penting untuk memutuskan apakah ia jadi melakukan kegiatan pembelian atau tidak. Tentu saja dengan tidak mengesampingkan faktor-faktor yang lain, dalam hal ini motivasi, persepsi, pembelajaran, dan sikap itu memegang peranan yang sangat penting.
Dalam pengambilan keputusan pembelian produk tertentu, faktor motivasi, persepsi, pembelajaran, dan sikap dapat memegang peranan yang besar. Dalam proses keputusan pembelian sebelum menentukan untuk melakukan tindakan pembelian suatu produk,konsumen tentu saja memiliki motivasi tertentu yang diharapkan akan tercapai setelah melakukan pembelian. Demikian juga dengan persepsinya akan produk, yang juga menentukan keputusannya, akan sangat tergantung dari penginterpretasian stimuli, situasi dan informasi yang didapatkan.Selain hal itu proses pembelajaran juga memegang peranan yang penting mengingat ketika akan memutuskan pembelian, tentu saja tidak lepas dari pengalaman dan proses mengenal suatu produk itu baik pengetahuan yang berasal dari pengalaman dia sendiri maupun pengalaman orang lain. Sikap tidak kalah pentingnya, mengingat ini menyangkut tanggapan seseorang terhadap suatu obyek, yang langsung maupun tidak langsung mempengaruhi keputusan pembeliannya.

TAHAPAN PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Perumusan masalah

Kebutuhan akan keputusan sering berupa suatu masalah dalam berbagai bentuk. Untuk mempermudah mengdentifikasi masalah,maka manajer memerlukan beberapa cara salah satunya adalah dengan menguji hubungan sebab-akibat.

Contoh: Seorang manajer perusahaan berkonsultasi dengan pihak-pihak lain yang mampu membeikan pandangan dan wawasan yang berbeda tentang masalah atau kesempatan.

Pengembangan alternative

Setelah masalah di ditentukan dan dirumuskan, langkah selanjutnya adalah pengumpulan dan analisa data yang relevan. Atas dasar tersebut, alternatif dikembangkan sebelum keputusan dibuat. Pengembangan alternatif merupakan tahap yang paling sulit dan memerlukan pemikiran-pemikiran yang kreatif.

Contoh:  Dalam prakteknya manajer tidak selalu mempunyai informasi yang lengkap. Maka diperlukan tindakan kongkret dari manajer berupa pemunculan ide-ide atau inovasi brau yang berguna untuk peningkatan mutu perusahaan.

Evaluasi alternative

Evaluasi alternatif tergantung pada pemilihan kriteria keputusan yang tepat. Kriteria sangat penting karena evaluasi alternatif ini melibatkan kriteria yang bertentangan.

Contoh: Keputusan manajer untuk menggunakan mesin baru dalam operasi mungkin akan mengurangi biaya tapi mungkin juga dapat menurunkan fleksibilitas operasi. Oleh karena itu evaluasi ini diperlukan untuk mengavaluasi resiko yang mungkin ditimbulkan dari alternatif yang akan diambil tersebut.

Pemilihan alternatif terbaik

Meskipun kualitas analisis yang dilakukan untuk mengevaluasi alternatif cukup tinggi, pemilihannya jarang menjadi mudah dan jelas. Hal tersebut karena masalah keputusan yang sulit disajikan secara lengkap. Hal ini juga merupakan kompromi diantara berbagai faktor yang dipertimbangkan.

Contoh: Dengan terpilihnya suatu alternatif terbaik, manajerpun harus mulai mampu menggerakkan pegawainya lewat pemberian materi atau bahan yang cukup di mengerti serta pemeriksaan lebih lanjut mengenai apa saja yang dibutuhkan nantinya.

Implementasi keputusan

Suatu keputusan belum selesai sebelum diterapkan dalam praktek. Implementasi memerlukan perubahan cara orang-orang berprilaku,sehingga pembuat keputusan dapat dipandang sebagai pengantar perubahan.

Contoh: Manajer mulai memberikan perintah,wewenang serta tanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas-tugas tertentu dan juga mulai menetapkan skedul kegiatan atau anggaran,mengadakan dan mengalokasikan sumber daya yang diperlukan.

Evaluasi dari hasil keputusan

Setelah keputusan diimplementasikan, maka yangselanjutnya dilakukan adalah mengevaluasi apakah alternatif-alternatif tadi sudah dilakukan dengan tepat dan apakah keputusan telah memberikan hasil-hasil yang diharapkan.

Contoh: pemonitoran yang dilakukan manajer secara terus menerus. Dengan evaluasi ini, manajer bisa mengetahui apa saja hal yang harus dikurangi atau ditambah untuk membuat perusahaan lebih baik lagi.

MODEL PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN


1.      Model Ekonomi, yang dikemukakan oleh ahli ekonomi klasik dimana keputusan orang itu rasional, yaitu berusaha mendapatkan keuntungan marginal sama dengan biaya marginal atau untuk memperoleh keuntungan maksimum

2.      Model Manusia Administrasi, Dikemukan oleh Herbert A. Simon dimana lebih berprinsip orang tidak menginginkan maksimalisasi tetapi cukup keuntungan yang memuaskan

3.      Model Manusia Mobicentrik, Dikemukakan oleh Jennings, dimana perubahan merupakan nilai utama sehingga orang harus selalu bergerak bebas mengambil keputusan

4.      Model Manusia Organisasi, Dikemukakan oleh W.F. Whyte, model ini lebih mengedepankan sifat setia dan penuh kerjasama dalam pengambilan keputusan

5.      Model Pengusaha Baru, Dikemukakan oleh Wright Mills menekankan pada sifat kompetitif
Model Sosial, Dikemukakan oleh Freud Veblen dimana menurutnya orang sering tidak rasional dalam mengambil keputusan diliputi perasaan emosi dan situsai dibawah sadar.

Jumat, 23 Oktober 2015

Perilaku Konsumen



Pada kasus ini, penulis akan mengangkat masalah teh celup. Diambil 4 sampel konsumen dengan 2 objek merk teh celup yaitu SariWangi dan Tong Tji.

Konsumen 1:

·         SariWangi: lebih wangi dan lebih enak. Rasanya tidak terlalu pekat dan jernih warna seduhan teh nya. Harga lebih mahal. Banyak dijual dimana-mana dan mudah ditemukan.

·         Tong Tji: rasa agak asam dan lebih pekat warna serta rasanya. Harga lebih murah. Lebih sulit ditemukan di pasaran.

Konsumen 2:

·         SariWangi: lebih harum, lebih berasa tehnya. Harga lebih mahal. Banyak dijual dimana-mana dan mudah ditemukan.

·         Tong Tji: seperti bukan teh. Menurutnya lebih seperti sirup. Harga lebih murah. Lebih sulit ditemukan di pasaran.

Konsumen 3:

·         SariWangi: lebih wangi, lebih lembut rasanya. Harga lebih mahal. Banyak dijual dimana-mana dan mudah ditemukan.

·         Tong Tji: wanginya menyengat, agak asam. Harga lebih murah. Lebih sulit ditemukan di pasaran.

Konsumen 4:

·         SariWangi: lebih enak rasanya, teh nya lebih berasa, lebih harum. Harga lebih mahal. Banyak dijual dimana-mana dan mudah ditemukan.

·         Tong Tji: lebih pahit rasanya, gak enak, rasanya aneh. Harga lebih murah. Lebih sulit ditemukan di pasaran.

Kesimpulan:

Setelah melakukan wawancara dengan 4 konsumen teh celup dan diambil objek SariWangi dan Tong Tji, dapat diambil kesimpulan bahwa teh celup merek SariWangi lebih disukai banyak konsumen dengan harga yang walau tidak murah dan rasa yang enak tetapi mudah ditemukan di pasaran. Hampir setiap warung atau mini market dekat rumah konsumen SariWangi dapat ditemukan dan dapat dibeli, sedangkan teh celup merek Tong Tji lebih tidak disukai para konsumen. Selain karena susah ditemukan, rasa dari teh tersebut agak lebih asam dan kurang enak.